Tumbuhkan Kemandirian dan Kepedulian: SKh Negeri 2 Kasongan Gelar "Jum'at Bersih" Mewujudkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

KASONGAN — Suasana Sekolah Khusus (SKH) Negeri 2 Kasongan tampak berbeda pada Jum'at pagi. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bersama para guru dan tenaga kependidikan bergotong-royong membersihkan lingkungan sekolah dalam kegiatan "Jum'at Bersih".

Kegiatan rutin ini tidak sekadar agenda kebersihan biasa, melainkan menjadi wadah implemetasi nyata dalam menanamkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat pada murid inklusif sejak dini.


Murid semangat membersihkan lingkungan sekolah pada agenda Jum'at Bersih.. Sumber: SKh Negeri 2 Kasongan

Pembentukan Karakter Melalui Aksi Nyata

Lewat bimbingan penuh kesabaran dari para pendidik, seluruh murid—mulai dari hambatan pendengaran, penglihatan, hingga intelektual—diajak berpartisipasi aktif sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang menyapu halaman, merapikan pot tanaman, hingga memilah sampah organik dan anorganik.

Aksi nyata ini mengintegrasikan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam aktivitas sehari-hari:

1. Bangun Pagi: Menanamkan kedisiplinan hadir tepat waktu untuk memulai aktivitas pagi dengan segar.

2. Beribadah: Mengawali kegiatan dengan doa bersama sesuai keyakinan masing-masing.

3. Berolahraga: Bergerak aktif menyapu, merapikan, dan mengangkat sampah ringan sebagai bentuk olah fisik menyenangkan.

4. Gemar Membaca: Mengenal dan membaca label petunjuk pada tempat sampah (organik/anorganik) untuk melatih pemahaman visual.

5. Makan Makanan Sehat & Bergizi: Membiasakan cuci tangan pakai sabun setelah bersih-bersih sebelum menikmati bekal sehat bersama.

6. Bermasyarakat (Gotong Royong): Melatih kerja sama, empati, dan saling bantu antar sesama teman tanpa membeda-bedakan.

7. Tidur Cepat/Tepat Waktu: Menjaga pola istirahat agar tubuh tetap fit untuk aktivitas sekolah harian.

Dampak Positif Bagi Anak Berkebutuhan Khusus:

Melalui pembiasaan rutin yang terstruktur, murid tidak hanya belajar menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mengasah motorik kasar dan halus, kemandirian, serta rasa percaya diri bahwa mereka mampu berkontribusi positif bagi lingkungannya.

Pihak sekolah berharap gerakan ini dapat terus konsisten dilaksanakan dan membawa dampak berkelanjutan, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga diterapkan di rumah masing-masing.


Mukrimah, S.Pd